Laman

Minggu, 28 Februari 2016

Saya dapat surat!


Selamat malam, Jelita

Perkenankan saya mengaggumi paras rembulanmu itu,
Lalu sebagai sebuah tanda yang dapat matamu temui,
Akan saya tuliskan takjub di atas kertas putih
Jikalau nantinya sampai ke tanganmu, jelita
Perkenankan seonggok rasa di atas aksara tersebut,
Yang sudah mutlak kalah cantiknya dengan kamu,
Untuk dibaca dengan seksama

Saya tahu benar atas keberadaan saya di hidupmu,
Sebuah nama yang mustahil kamu fikirkan, sedang parasmu sudah dahulu
menjamur di kepala
Namun perkenankan,
Takjub saya untuk sekali saja,
Kamu hargai keberadaannya. 

Sudikah kiranya?"

Maka mataku menemuinya:
Surat darimu yang kau beri judul untuk rembulan.
seperti katamu, hanya kamu seorang. 

Senin, 09 November 2015

memori


udara malam menuju pagi
dan segala yang hidup kemarin
yang menjadikannya
sebuah ruang di antara kita 
bisa jadi akan
segera menjadi perihal
yang kelak dirindukan

seperti gigil
redup
penat
kantuk
dan segala yang
masih terpaksa 
juga tidak terbiasa

sudah kadung
berubah jamur di kepala
menerka-nerka
definisi dari aku
di kepalamu

satu lagi,
terimakasih untuk
detak waktu yang melingkar
di pergelangan tangan kirimu
sebab telah menanggapi 
penasaranku atas waktu pagi itu

nantinya
semoga kamu tahu
pertemuan mata kita
memberimu makna
bahwa aku pernah
menulis tentangmu.

Pukul 1:15

di antara malam dan pagi,
samar-samar serta hutan.